Love Story

Hal Kecil yang Disebut
CINTA
(Bukan A Little Thing Called Love)
LOVIKA AUGUSTA. P.

“Upik! Masih ganteng aja? Kayak Robert Pattinson,tapi kalo si Robert udah jadi aki-aki?! Huakakakak!” Ledek Puru begitu Upik sampai di pintu kelas. Mendengar olokan itu, tentu saja mulut kecil Upik langsung menggerutu penuh emosi. “Padahal hari masih pagi, bel masuk saja belum berdering.Tapi Puru udah mulai ngajak perang!” gerutu Upik, suasana hati Upik pun menjadi buruk. Dalam hatinya, cewek bertubuh tinggi ini berdoa, “Oh Tuhan… kapan Puru akan berhenti meledekku? Ini semua gara-gara aku yang berpenampilan seperti cowok sejak kelas 1 SMP, tapi apa salahnya berpenampilan seperti ini? Toh ini kan style-ku! ”.
Upik yang malang. Meskipun dia sudah duduk di bangku  SMA , dia tetap berpenampilan seperti cowok atau kita sering dengar dengan julukan cewek tomboy. Berbeda dengan Puru. Semakin hari cowok menyebalkan itu malah semakin tampan,keren,populer,pinter,dan di tambah lagi dia adalah bintang basket di sekolahnya. Dia dipuja-puja oleh para cewek. Tapi dia senang sekali meledek Upik habis-habisan.
Sialnya,selama empat tahun berturut-turut sejak SMP hingga sekarang, mereka selalu sekelas. Buat Upik, empat tahun ini adalah neraka dunia. Sedangkan bagi Puru, empat tahun ini banyak hiburan di sekolah. Dengan meledek Upik, suasana hatinya yang kalut berubah bahagia. Lalu buat teman-teman lainnya, meliahat Upik dan Puru saling meledek, kejar-kejaran dan pukul-pukulan, mereka merasa sedang menonton film kartun Tom and Jerry secara langsung. Tentu saja yang berperan sebagai Jerry adalah Upik.
 “Makanya,ikut cheers dong biar kayak cewek!” sambil mencerca, Puru memperlihatkan wajah yang meledek di hadapan muka Upik . “Ya ampun! Ini anak…” gerutu upik.
“Dasar bawel kamu!” Upik memukul badan Puru dengan gulungan karton tebal yang tergeletak di atas meja guru. Sayangnya, pukulan Upik itu tak mengenai sasaran. Secepat kilat, Puru menghindar dan berlari keluar kelas. Perperangan pun dimulai!
Di sepanjang koridor lantai satu, Upik mengambil langkah seribu untuk mengejar Puru. Karena semua ruang kelas sepuluh berada di koridor ini, sorakan dan teriakan teman-teman seangkatan terdengar di telinga Upik. Namun, cewek tomboy ini tidak peduli. Ia terus mengayunkan kakinya memburu musuh bebuyutannya.
“Upik Upil! Kejar aku dong! Pelan banget sih larinya?Masa cowok lelet gitu?Upik Upil  payah?!”Puru terus berlari sambil memanas-manasi Upik.
“Puru! Awas kamu!”Upik menambah kecepatannya. Namun, Puru tak terkejar. Cepat sekali ia berlari. Sialnya, pagi ini Upik belum sarapan. Badannya jadi lemas dan tak kuat berlari lebih cepat lagi. 
“KRING!” Bel masuk berdering. Karena keberadaan Puru tak jelas di depan matanya, Upik memutuskan untuk kembali ke kelasnya,kelas X6 yang terletak di ujung lorong. Untuk sampai dikelas bercat dinding biru itu, tentu saja ia harus melewati koridor yang masih dipenuhi oleh anak-anak cheers yang pasti sibuk mentertawakan dan membicarakan soal penampilan Upik yang tomboy. Semua anggota cheers adalah pengagum cowok paling menyebalkan menurut Upik, siapa lagi kalo bukan Puru.
.....
Keesokan harinya, Upik dateng lebih pagi. Ia juga sudah sarapan dan minum susu. Hari ini Ayah memberikan uang jajan bulanan kepadanya. Karena hal-hal yang menyenangkan terjadi di awal harinya, ia tampak lebih bersemangat. Dari turun angkot sampai masuk kelas, bibirnya terus menyimpul ceria. Suasana hatinya benar-benar berbanding terbalik dengan kemarin.
Sayangnya, energy positifnya hanya bertahan sesaat. Lagi-lagi Puru membuatnya naik pitam.
“Upik! Keluar kumis tuh,belum dicukur yah?! Hahahaha!” Ledek Puru begitu Upik sampai di kelas dan duduk di bangkunya.
Dengan semangat ’45, Upik beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Puru yang baru datang. “Nyebelin, pagi-pagi udah ngajak bikin ribut!” Dia berusaha memukul Puru dengan buku yang ada di atas meja temannya. Puru menghindar dan berlari keluar kelas. Mereka pun kejar-kejaran lagi.
Di sepanjang koridor lantai satu, seperti biasa, cewek-cewek cheers yang pada nge-fans­ sama si Puru membicarakan Upik dengan sinis. Upik cuek saja. Dia terus berkonsentrasi mengejar Puru. Kali ini dia sudah sarapan sehingga bisa berlari lebih cepat dari kemarin.
“KRING!” Bel masuk berdering. Upik mengacuhkannya dan terus mengejar Puru.Padahal, beberapa sorakan sudah mengganggu telinganya. Karena Upik tak juga menyerah, Puru mulai kewalahan. Sampai akhirnya, cowok itu duduk beristirahat di kursi taman. Menyadari Puru sedang lengah, Upik segera menghampirinya dan mendaratkan buku itu ke badan cowok menyebalkan itu. Upik sungguh gelap mata. Pikirannya, mumpung Puru berda di dalam genggamannya.
“Ampun, Upik! Sakit tau! ” pintanya kesakitan. “Biarin! Sapa suruh pagi-pagi ngajak perang?” ujar Upik dengan semangat melampiaskan rasa kekesalannya. Lalu mata Puru yang menyipit menyorot ke dalam arah mata Upik.
Selagi memandangi mata Puru, tiba-tiba suatu perasaan asing menyergap Upik. Entah mengapa, saat ini, wajah Puru terlihat menarik di pandangnya. Oops, sepertinya, Upik mulai ada sesuatu dengan si Puru.



.....
Keesokan harinya, Puru tetap saja meledek Upik. Rupanya, kejadian di taman kemarin nggak membuatnya jera. Mulut besarnya masih terus berkoar meledek Upik. Selama kejar-kejaran, Puru berkali-kali menengok ke belakang dan berteriak-teriak, “Lelet! Upik kumisnya tumbuh tuh. Hahahaha.”
Anehnya, Hal ini justru membuat emosi Upik melemah. Senyuman Puru hari ini begitu renyah dan menawandi matanya. Sejenak energi asing itu menguak lagi ke permukaan hati.
“Kacau! Jangan sampai perasaan macam ini tumbuh. Mana mungkin aku suka sama cowok nyebelin kayak Puru gitu?!” pikir Upik.
Karena kecapekan, Puru memutuskan untuk duduk di kursi taman. Napasnya ngos-ngosan. Melihat hal ini Upik segera memukul tangan kanannya dengan diktat pelajaran yang digengamnya dan….
“AUW! Sakit! Ini bekas cedera abis tanding kemaren tahu!” Puru refleks mengusap-usap lengan kanannya. Nggak tau kenapa, Upik berubah menjadi empati padanya.
“Eh sakit ya, Puru? Maa..Maaf ya?” Upik duduk di samping kirinya.
Puru tak menjawab.
Mati aku! Kelihatannya Puru kesakitan banget.” Batin Upik.
“Maa…mau ke UKS gak Puru? Aku anterin yah? Kayaknya kamu kesakitan banget.” Tanya Upik gugup dan cemas.
“Upik…. Upik… ” Puru mengadahkan kepalanya dan menggeleng “Kamu care banget sih sama aku. Aku jadi merasa bersalah karena selama ini jahat sama kamu terus.”
Sontak, bulu kuduk Upik merinding. Bagai disambar petir, dada Upik langsung panas. Saat  ini, kedua pipinya tengah merah merona.
“Pik, kok mukanya jadi merah gitu?” Tanya Puru yang ternyata menyadari tingkah upik yang aneh. Upik jadi gugup. Suasana berubah menjadi melankolis.
“Ah, masa sih ru? Biasa aja kok.”
Hanya itu jawaban yang bisa Upik lontarkan padanya.
“Ka… Kalau mukanya merah gitu,berarti…,” Puru perlahan berdiri dengan mimik wajah merintih. Detakan jantung Upik semakin kencang. Apa Puru akan menyadari perasaan Upik yang akhir-akhir ini menjadi aneh?
“KRING!” bel masuk berdering kencang. Puru tak sempat melanjutkan ucapannya. Ia segera berlari menuju kelas. “Kira-kira dia mau ngomong apa ya? Jadi kepo.” Upik penasaran.
.....
Keesokan harinya, Upik menuju kelasnya. Dia berdoa, “Tuhan semoga hari ini si Puru gak ngajak perang lagi.” Dia sampai di kelasnya.  Aneh hari ini dia tidak di ledek oleh Puru. Upik hanya memandang heran “Kenapa cowok nyebelin ini gak ngejek aku? Apa kejadian kemarin yah? ” Batin Upik. “Ah pasti dia menyesal, gara-gara ngeledek aku” yakin Upik meskipun dia tidak yakin dengan perkataannya sendiri.
Di dalam kelas, hati Upik tidak tenang karena perilaku aneh si Puru. Dia terus saja memandangi Puru. “Ecieee… Mbak ganteng keliatannya lagi galau, gara-gara gak di ledek si Puru. Hihihihi” ujar teman sebangku Upik  yang setengah berbisik itu. “Ah, apaan sih? Siapa juga yang galau? Malahan aku berterimakasih sama Tuhan, doa ku sudah dikabulin.” ujar Upik sedikit kesal pada temannya itu. Tapi apa yang dikatakan teman sebangku Upik itu ada benarnya juga. Upik di landa ke-galauan, lantaran si Puru tidak meledeknya lagi.
Ketika didalam kelas Upik berpikir “Apa aku kelewatan sama Puru yah?”.
 Upik berpikir sejenak dan ingat sesuatu yang di lakukan kemarin dengan Puru.
O..iya, apa jangan-jangan kejadian kemarin? Aku pukul lengan Puru yang lagi cedera? Apa gara-gara itu yah? Duh, kalo emang gara-gara itu aku harus cepet-cepet minta maaf.” batin Upik.
Upik berpikir lagi “Tapi, aku liat sekarang dia baik-baik aja gak ngerasa kesakitan. Tapi…. Apa salahnya sih? Aku minta maaf atas kejadian itu... Duh bingung. Kayaknya aku galau beneran nih.
.....
“KRING!!” bel istirahat pun berbunyi. Anak-anak kelas pun berhamburan keluar untuk istirahat. Tapi Upik masih duduk dibangkunya. Dia sedang melamunkan sikap Puru hari ini.
Di lain hal,Puru pun melihat Upik yang sedang duduk di bangkunya. Puru heran kepada Upik hari ini. Biasanya Upik jika mendengar bel istirahat dia tampak senang. Tapi hari ini dia terlihat memikirkan sesuatu.
“Woi!!” Sontak Upik kaget.Dia di kagetkan oleh cowok berbadan tinggi, yang sudah menatap di dekat wajahnya. “Nglamun aja mulai tadi. Bel istirahat udah bunyi tuh ?! Ngelamunin apa sih? Sampai gak kedip gitu?” tanya cowok berbadan tinggi, yang ternyata Puru.
“Apaan sih kamu tuh ru?! Bawel deh, yang ngelamun aku aja, kok kamu yang sewot.” ujar Upik dengan kesal karena di kagetkan oleh Puru. “Yeee, di ingetin kalo istirahat malah marah. Dasar! Gak ada manis-manisnya jadi cewek” setelah berkata demikian Puru pun meninggalkan Upik.
Duh, aku kok malah sewot sih. Padahal ini kan kesempatan baik buat minta maaf ke Puru. Aku harus cepet-cepet minta maaf ke Puru. Upik bergegas mengejar Puru dan mencarinya.
.....
Setelah mencari-cari, akhirnya Upik menemukan Puru. Dilihatnya Puru duduk bersantai di bangku taman sambil bermain game yang ada di handphone-nya. Lalu Upik pun menghampiri Puru.
“Puru?” panggil Upik. “Hm?” Puru menjawab dengan santai dan mengalihkan perhatiannya dari handphone ke Upik.
“Puru,maafin aku yah” ujar Upik dengan nada yang lembut. “Minta maaf kenapa?” tanya Puru heran. “Hm… Pokoknya aku minta maaf” kata Upik dengan gugup.
 “Ck.Kamu ini geje. Gak ada apa-apa malah minta maaf.” Puru sedikit kesal. Tapi ketika melihat wajah Upik yang begitu gugup Puru tersenyum dan menarik tangan Upik agar duduk di dekatnya.
“Kamu kenapa sih pik?” Ujar Puru sambil tersenyum manis. “Aku minta maaf soal kemaren sama yang tadi” Upik menjawab dengan merunduk karena tidak berani melihat wajah Puru. “Maksudnya pik? Emang kamu habis ngapain aku? kok kamu minta maaf?” tanya Puru bingung.
“Kemarin aku mukul lengan kamu yang lagi cedera,terus yang tadi kamu tanya baik-baik ke aku. Eh… aku-nya­ malah sewot ke kamu. Maaf yah ru?” jawab Upik sambil menoleh Puru dan menjadi  malu lantaran wajah Puru terlalu dekat dengannya.
“Oh…Jadi itu yang bikin kamu ngelamun. Tapi seharusnya aku yang minta maaf ke kamu,soalnya aku udah kelewatan, aku bilang kalo kamu gak ada manis-manisnya jadi cewek. Tapi sepertinya aku salah menilai kamu,  ternyata kamu lebih manis dari pada cewe lainnya. Maaf yah pik?” Puru berkata dengan santai dan tersenyum. Pipi Upik sontak merona. Upik tak tau harus berkata apalagi. Upik hanya mengangguk.
“O,iya pik kita kan udah lama kenal nih.Kita empat tahun satu sekelas terus. Kalo boleh ngomong, gimana kalo kita…” Puru menghentikan perkataannya sejenak dan mendekatkan wajahnya ke Upik.
Wajah Upik pun terlihat sangat merah. Detak jantung Upik semakin kencang
Apakah Puru bakal menyatakan… Ah tidak,tidak itu tidak muungkin terjadi. Tapi kalo itu terjadi, aku harus bagaimana?” batin Upik.
“Gimana kalo kita jadi…” Puru melanjutkan perkataannya.
Upik semakin Deg-degkan.
 “Sahabat!”
Puru pun mengakihiri ketegangan Upik. “Sahabat?”ujar Upik heran.
 “Ia sahabat,kita kan selalu bareng nih. Masa mau jadi Tom and Jerry terus? Capek tau lari-lari.” Jawab Puru dengan santai dan mengalihkan wajahnya ke taman sekolah.
 “Gimana? Mau gak??” tanya Puru lagi.
 “Ok, Ok, tapi janji yah gak ngeledek aku terus?” tanya Upik yang sudah tidak gugup lagi meski dia masih deg-degkan.
 “Oh… Kalo masalah itu aku gak jamin. Hahahahaha” jawab puru dengan wajah meledek Upik.
“Puru?!” Upik langsung kesal dan memukul Puru. Puru langsung beranjak dan lari. Upik pun mengejar Puru.
“Puru?! Awas kamu yah kalo kena?!” ujar Upik kesal. “Ahaha coba kejar aku kalo bisa?! Dasar Upik Upil!” Jawab Puru dengan tertawa Puas melihat Upik menjadi kesal.
Mereka pun berlarian kesana kemari di koridor. Dan seperti biasa, sorakan dari teman-teman seangkatan terdengar ramai sekali.   
.....
Waktu terasa cepat berlalu. Kini Upik dan Puru sudah kelas sebelas. Dan anehnya lagi mereka berdua sekelas lagi. Benar-benar jodoh.
Tapi semenjak kejadian setahun yang lalu mereka semakin dekat dan akrab.
Tetapi Puru telah berpacaran dengan cewek-cewek yang dekat dengan dia. Kecuali Upik. Puru selalu bercerita tentang pacarnya kepada Upik. Upik hanya menanggapi saja, meski Upik juga iri kepada cewek yang di pacari oleh Puru.
Puru berpacaran paling lama hanya sekitar satu minggu dan rekor pacaran singkatnya hanya satu hari. Upik merasa lelah dan kesal melihat perilaku sahabatnya yang mempermainkan cewek.
Ya Tuhan… Tolong ajarkan tentang cinta sejati pada cowok ini.” Batin Upik saat melihat Puru di kelilingi para cewek-cewek.
“Hei Puru, Apa bener kamu sudah putus sama pacarmu?” tanya salah satu cewek yang ada di dekat Puru. “Iya, kemarin aku di putusin. Hibur aku dong” jawab Puru santai sambil tersenyum kepada gerombolan cewek yang mengelilinginya.
“Kalo gitu pacaran sama aku aja yuk? Aku pasti menghiburmu” tawar cewek itu kepada Puru. “Ok deh, Ayo kita pacaran.” Lagi-lagi dengan santainya dia berbicara tanpa memikir panjang.
Upik langsung kaget melihat mereka berdua. Sebenarnya Upik telah menguping pembicaraan mereka.
“Nah kalo gitu, di pelajaran selanjutnya kita bolos aja yuk? Kita pergi ke tempat yang bisa berduaan gitu…” ujar cewek itu manja terhadap Puru.
Langsung saja, reflek Upik menghentikan mereka dengan memukul bangkunya “BRAKK!”
“Tunggu Puru ?! Kamu gak lupa kan kalo minggu ini kamu tugas piket sama aku ?! Kamu mau pergi kemana hah?!” Upik mengingatkan Puru sambil menunjukan buku piket, sepertinya Upik marah besar terhadap Puru.
  “Akh… Upik, maaf aku lupa” Puru langsung menghampri Upik.
“Tunggu Puru!! Kamu kan bisa ngelakuin itu nanti setelah pergi?” rengek cewek itu.
“Maaf, tapi aku nggak bisa meninggalkan sahabatku sendirian.” Jawab Puru dengan tegas.
Sahabat ya…” batin Upik.
“Uh… Awas aja itu si Upik.” Ujar cewek itu kesal dan meninggalkan mereka.
Setelah itu mereka langsung mengambil penghapus papan tulis untuk membersihkan papan tulis yang penuh dengan coretan, bekas pelajaran tadi.
“Upik! Siapa yang lebih cepat menghapus papan tulis ini, ditraktir jus ya?” kata Puru dengan semangat. “Roger !” Upik menjawab perkataan Puru dengan penuh semangat.
“Kita lihat siapa yang menang! Huh, aku sih gak bakalan kalah ?!” Puru mulai menyombongkan diri. “Katakan itu kalo kamu udah menang ?!” Upik mulai panas dan membenturkan penghapus itu ke papan sehingga mengeluarkan debu kapur.
“Uhuk, Awas kamu yah,Ayo kita mulai…” kata Puru sedikit panas ketika terkena debu kapur itu.
“Brak…Bruk…Brak…Bruk…” mereka menghapus papan dengan cara membenturkan penghapus itu ke papan,sehingga seluruh debu kapur memnuhi ruang kelas.
“Kalian hentikan… Woi?! Uhuk… uhuk” kata teman-teman sekelas. “Kita jadi batuk tau, kalian berdua ini kayak anak kecil aja?!” timpal anak lain.
Langsung saja Upik dan Puru berhenti dan melihat teman-temannya yang sedang batuk masal gara-gara debu kapur yang mereka buat.
“Iya, maaf yah teman-teman” kata Upik sambil bergaya orang Jepang jika meminta maaf. “Hahahaha… Nggak pernah bosen kalo sama Upik deh” kata Puru sambil tertawa bahagia. “Baju kita kena debu kapur nih… Jadi putih-putih semua…” Upik sambil membersihkan bajunya yang penuh dengan debu kapur.
Setelah mereka membersihkan bajunya dari debu kapur, Upik duduk kembali ke bangkunya dan Puru pergi ke luar kelas entah kemana.
Sejenak Upik melihat ke luar jendela dan melihat awan. “Hmm… Sahabat yah? Kenapa ya, di nggak ngerti perasaanku. Padahal kita sudah berteman sejak SMP. Tapi yah… Asalkan bisa melihat dia tertawa, ngak apa-apa deh Cuma dianggap sebagai sahabatnya saja.” Pikir Upik.
.....
“KRING!” bel berbunyi menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai.
 “Kurang ajar banget dia. Dia lupa ya, kalo tugas piket itu juga harus mempersiapkan bahan untuk pelajaran selanjutnya” terlihat cewek tinggi berkulit kuning langsat keluar dari ruang guru, dengan membawa buku pelajaran yang tebal dan berat sendirian. Lalu Upik menuju kelasnya yang berda di lantai dua.
Setibanya di tangga ia melihat sesosok laki-laki yang tidak asing baginya “Akh, Puru ?! Itu dia kan?” batin Upik. Lalu ia mengikuti cowok itu.
“Puru ?! Tung…” Upik tidak melanjutkan perkataannya. Dia tercengang melihat Puru akan di cium oleh cewek yang memaksa Puru untuk pergi tadi.
“BRUK!” buku yang dipegang oleh Upik terjatuh.Puru dan cewek tadi kaget. Sontak mereka berdua melihat ke arah Upik yang sedang tercengang.
“Eh, Upik?! Maaf aku lupa lagi” buru-buru Puru membantu mengambil buku yang dijatuhkan oleh Upik. Upik tetap terpaku oleh kejadian tadi.
“Tunggu Puru! Kamu pilih dia lagi,hah?! Padahal aku inikan pacarmu?!” tanya cewek itu kesal terhadap Upik dan kelakuan Puru.
“Bisa nggak sih? Kamu mempermasalahkan yang lain saja?” ujar Puru datar.
“Apa-apan itu?! Sudah cukup !! Dasar bodoh ?! Kita putus saja!!” kata cewek itu kesal dan berlari meninggalkan Puru dan Upik. Upik masih terpaku.
Di lanjutkannya Puru memungut buku yang jatuh. “Haah… Ini pertama kalinya aku diputusin dalam dua hari berturut-turut …” kata Puru dengan santai.
“Upik?” Puru mengadahkan kepalanya dan melihat Upik yang masih terpaku.
“Puru apa aku nggak bisa jadi pacarmu yang selanjutnya?” tiba-tiba Upik melontarkan kata-kata itu dari mulut kecilnya.
Puru langsung kaget. “Eh, siapa?” jawab Puru dengan wajah seperti tanpa dosa. “Siapa?” pikir Upik.
Upik terdiam dan menunggu jawaban Puru. “Kayaknya, kamu lagi pengen punya pacar yah?” kata cowok tinggi itu setelah memungut semua buku yang jatuh.
“Puru? Kamu nggak merasakan yang namanya cinta sejati yah?” Upik membalas perkataan Puru itu denga kesal.
“Nggak tuh!”
Puru langsung menjawab cepat dan penuh keyakinan. Setelah itu Puru berhenti berbicara sejenak. Suasana menjadi hening. “Aku sama sekali nggak pernah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh. Karena kupikir akan lebih mudah kalo seperti itu.” Kata-kata itu dilontarkan dari mulut seorang pria yang tampan ini.
Upik menjadi terharu mendengar perkataan Puru tadi. Tapi….
“Tapi, yah kalo punya pacar ngelakuin apapun jadi bisa lebih mudah kan? Terus bisa dapet hadiah juga” kata puru dengan bangganya.
Betapa kecewanya Upik, setelah mendengarkan kata-kata yang menyentuh hati dan disusul dengan perkataan yang tidak memikirkan perasaan orang lain.
Lalu mereka berjalan menyusuri koridor lantai dua untuk menuju kelas mereka.
Upik terdiam dan mulai ilfiel.
 Percuma?! Ternyata cintaku pada Puru tetap saja bertepuk sebelah tangan?!” batin Upik dengan menyesalnya dia telah menyukai cowok yang seperti itu.
Yap! Aku akan  melupakan cintaku yang bertepuk sebelah tangan ini. Sekarang saatnya aku mencari cinta yang baru!” di dalam hati Upik berkata seperti itu dengan penuh semangat ’45.
....
 Esoknya Upik berusaha untuk menghilangkan rasa sukanya kepada Puru. Tetapi itu mustahil. Ternyata Upik tidak bisa melupakan Puru. Dipandanginya Puru. Pandangan Upik seakan-akan tidak bisa lepas dari Puru.
Tapi Upik selalu berusaha untuk nyuekin Puru. Saat bertemu di koridor Puru menggoda Upik “Halo mbak ganteng?”. Upik tak menjawab.
Seringkali Puru menyapa Upik. Tetapi Upik tetap tidak menghiraukan Puru. “Pik, jangan nyuekin aku kayak gitu dong..” rengek Puru. Upik hanya diam dan meninggalkan Puru. Seolah-olah tidak ada yang berbicara padanya.
Tapi dalam hati Upik dia tidak bisa menipu dirinya untuk tidak menghiraukan Puru.
Akhirnya Upik memberanikan diri untuk membicarakan masalah perasaannya. “Puru?” kata Upik. “Apa cewek ganteng? ahahaha” kata Puru yang mulai menggoda Upik. “Puru, apa kamu gak pernah ada rasa suka sama aku?” ujar Upik dengan gugup. “Kenapa sih pik, akhir-akhir ini kamu selalu membicarakan itu ?” kata Puru sedikit penasaran kepada Upik. “Soalnya… Soalnya aku suka sama kamu,aku pikir kamu gak suka sama aku. Jadinya aku coba buat gak suka sama kamu. Tapi gak bisa ru.” Ucap Upik sambil merunduk. “Aku ngerasa sakit waktu kamu nyuekin aku. Aku gak peduli meskipun aku dicuekin sama pacar dan mantan-mantanku, tapi kalo sama kamu, aku ngerasa sakit. Tapi setelah kamu nyapa aku duluan, gak tau kenapa aku jadi seneng dan lega ”. Ujar Puru dengan wajah yang merah.
Suasana menjadi hening dan kikuk.
“Sebenernya pik, aku malah suka sama kamu mulai kelas satu SMP. Mangkanya sejak itu aku ngejailin kamu. Tapi aku gak berani nyatain ke kamu, aku takut kamu sebenernya cuman nganggep aku temen.” Ucap Puru serius sambil menatap Upik dengan tatapan yang bisa membuat semua cewek melting. Upik terdiam dan malu. “Tapi kenapa kamu malah mau pacaran sama orang lain?” ujar Upik sedikit kesal.
“Aku sebenernya gak ada niatan untuk pacaran dengan cewek lain, tapi aku pengen ngelupain persaanku ke kamu, karena waktu itu aku kira cintaku bertepuk sebelah tangan” ucap Puru dengan serius. Upik ingin menjawab perkataan Puru, tapi sebelum berkata Puru menyela Upik “Aku sebenernya mau banget jadi pacarmu, tapi aku pikir kalo jadi sahabat lebih baik daripada pacaran. Kalo pacaran kita bisa putus, tapi kalo jadi sahabat kita tidak mungkin putus kan?” ucap Puru dengan serius. “Pik,jujur aku suka sama kamu. Kamu bersedia kan jadi pacarku?” Kata Puru dengan wajah yang tersipu malu. Upik hanya diam tak menjawab, ia malah terpaku melihat Puru menyatakan cinta padanya secara tiba-tiba. “Sebenernya ini pertama kali aku menyatakan cinta. Sebelum-sebelumnya aku hanya ditembak oleh mantan pacarku saja.” Puru memperjelas keadaannya.
“Jadi itu kenapa alasanmu, yang selalu mengelak kalo aku tanya masalah perasaan kita?” ujar Upik yang ingin tau. Puru hanya mengangguk malu.
”Upik kamu maukan jadi pacarku, sampai seterusnya dan hidup bahagia bersama?” ucap Puru sambil tersenyum manis kepada Upik. Upik mengangguk senang.
Tiba-tiba Puru memeluk Upik. Sontak Upik terkejut. Tetapi Upik perlahan-lahan membalas pelukan Puru. “Upik, aku sayang sama kamu. Janji jangan ninggalin aku ya?” bisik Puru sambil memeluk Upik dengan erat. Upik mengangguk dan tetap memeluk Puru. Di dalam hati Upik berkata “Tuhan terimakasih telah mengajarkan pada sahabatku ini tentang arti cinta sejati.” Bibir kecil Upik tersenyum.
Tamat 
“Cerita ini dialami oleh sang Penulis sendiri. Kita tidak tahu kapan Cinta itu datang, darimana Cinta itu datang dan siapa Cinta itu. Yang kita ketahui hanyalah bagaimana kita bisa merasakan Cinta itu sendiri”






0 komentar:

Posting Komentar