Hal Kecil yang Disebut
CINTA
(Bukan A Little Thing Called Love)
LOVIKA AUGUSTA. P.
“Upik! Masih
ganteng aja? Kayak Robert Pattinson,tapi kalo si Robert udah jadi aki-aki?!
Huakakakak!” Ledek Puru begitu Upik sampai di pintu kelas. Mendengar olokan
itu, tentu saja mulut kecil Upik langsung menggerutu penuh emosi. “Padahal hari
masih pagi, bel masuk saja belum berdering.Tapi Puru udah mulai ngajak perang!”
gerutu Upik, suasana hati Upik pun menjadi buruk. Dalam hatinya, cewek bertubuh
tinggi ini berdoa, “Oh Tuhan… kapan Puru
akan berhenti meledekku? Ini semua gara-gara aku yang berpenampilan seperti
cowok sejak kelas 1 SMP, tapi apa salahnya berpenampilan seperti ini? Toh ini
kan style-ku! ”.
Upik yang
malang. Meskipun dia sudah duduk di bangku
SMA , dia tetap berpenampilan seperti cowok atau kita sering dengar
dengan julukan cewek tomboy. Berbeda
dengan Puru. Semakin hari cowok menyebalkan itu malah semakin
tampan,keren,populer,pinter,dan di tambah lagi dia adalah bintang basket di
sekolahnya. Dia dipuja-puja oleh para cewek. Tapi dia senang sekali meledek
Upik habis-habisan.
Sialnya,selama
empat tahun berturut-turut sejak SMP hingga sekarang, mereka selalu sekelas.
Buat Upik, empat tahun ini adalah neraka dunia. Sedangkan bagi Puru, empat
tahun ini banyak hiburan di sekolah. Dengan meledek Upik, suasana hatinya yang
kalut berubah bahagia. Lalu buat teman-teman lainnya, meliahat Upik dan Puru
saling meledek, kejar-kejaran dan pukul-pukulan, mereka merasa sedang menonton
film kartun Tom and Jerry secara
langsung. Tentu saja yang berperan sebagai Jerry
adalah Upik.
“Makanya,ikut cheers dong biar kayak cewek!” sambil mencerca, Puru memperlihatkan
wajah yang meledek di hadapan muka Upik . “Ya ampun! Ini anak…” gerutu upik.
“Dasar bawel
kamu!” Upik memukul badan Puru dengan gulungan karton tebal yang tergeletak di
atas meja guru. Sayangnya, pukulan Upik itu tak mengenai sasaran. Secepat
kilat, Puru menghindar dan berlari keluar kelas. Perperangan pun dimulai!
Di sepanjang
koridor lantai satu, Upik mengambil langkah seribu untuk mengejar Puru. Karena
semua ruang kelas sepuluh berada di koridor ini, sorakan dan teriakan
teman-teman seangkatan terdengar di telinga Upik. Namun, cewek tomboy ini tidak peduli. Ia terus
mengayunkan kakinya memburu musuh bebuyutannya.
“Upik Upil!
Kejar aku dong! Pelan banget sih larinya?Masa cowok lelet gitu?Upik Upil payah?!”Puru terus berlari sambil
memanas-manasi Upik.
“Puru! Awas
kamu!”Upik menambah kecepatannya. Namun, Puru tak terkejar. Cepat sekali ia
berlari. Sialnya, pagi ini Upik belum sarapan. Badannya jadi lemas dan tak kuat
berlari lebih cepat lagi.
“KRING!” Bel
masuk berdering. Karena keberadaan Puru tak jelas di depan matanya, Upik
memutuskan untuk kembali ke kelasnya,kelas X6 yang terletak di ujung lorong.
Untuk sampai dikelas bercat dinding biru itu, tentu saja ia harus melewati
koridor yang masih dipenuhi oleh anak-anak cheers
yang pasti sibuk mentertawakan dan membicarakan soal penampilan Upik yang tomboy. Semua anggota cheers adalah pengagum cowok paling
menyebalkan menurut Upik, siapa lagi kalo bukan Puru.
.....
Keesokan
harinya, Upik dateng lebih pagi. Ia juga sudah sarapan dan minum susu. Hari ini
Ayah memberikan uang jajan bulanan kepadanya. Karena hal-hal yang menyenangkan
terjadi di awal harinya, ia tampak lebih bersemangat. Dari turun angkot sampai
masuk kelas, bibirnya terus menyimpul ceria. Suasana hatinya benar-benar
berbanding terbalik dengan kemarin.
Sayangnya,
energy positifnya hanya bertahan sesaat. Lagi-lagi Puru membuatnya naik pitam.
“Upik! Keluar
kumis tuh,belum dicukur yah?! Hahahaha!” Ledek Puru begitu Upik sampai di kelas
dan duduk di bangkunya.
Dengan
semangat ’45, Upik beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Puru yang baru
datang. “Nyebelin, pagi-pagi udah ngajak bikin ribut!” Dia berusaha memukul
Puru dengan buku yang ada di atas meja temannya. Puru menghindar dan berlari
keluar kelas. Mereka pun kejar-kejaran lagi.
Di sepanjang koridor
lantai satu, seperti biasa, cewek-cewek cheers
yang pada nge-fans sama si Puru
membicarakan Upik dengan sinis. Upik cuek saja. Dia terus berkonsentrasi
mengejar Puru. Kali ini dia sudah sarapan sehingga bisa berlari lebih cepat
dari kemarin.
“KRING!” Bel
masuk berdering. Upik mengacuhkannya dan terus mengejar Puru.Padahal, beberapa
sorakan sudah mengganggu telinganya. Karena Upik tak juga menyerah, Puru mulai
kewalahan. Sampai akhirnya, cowok itu duduk beristirahat di kursi taman.
Menyadari Puru sedang lengah, Upik segera menghampirinya dan mendaratkan buku
itu ke badan cowok menyebalkan itu. Upik sungguh gelap mata. Pikirannya,
mumpung Puru berda di dalam genggamannya.
“Ampun, Upik!
Sakit tau! ” pintanya kesakitan. “Biarin! Sapa suruh pagi-pagi ngajak perang?”
ujar Upik dengan semangat melampiaskan rasa kekesalannya. Lalu mata Puru yang
menyipit menyorot ke dalam arah mata Upik.
Selagi
memandangi mata Puru, tiba-tiba suatu perasaan asing menyergap Upik. Entah
mengapa, saat ini, wajah Puru terlihat menarik di pandangnya. Oops, sepertinya,
Upik mulai ada sesuatu dengan si Puru.
.....
Keesokan
harinya, Puru tetap saja meledek Upik. Rupanya, kejadian di taman kemarin nggak
membuatnya jera. Mulut besarnya masih terus berkoar meledek Upik. Selama
kejar-kejaran, Puru berkali-kali menengok ke belakang dan berteriak-teriak,
“Lelet! Upik kumisnya tumbuh tuh. Hahahaha.”
Anehnya, Hal
ini justru membuat emosi Upik melemah. Senyuman Puru hari ini begitu renyah dan
menawandi matanya. Sejenak energi asing itu menguak lagi ke permukaan hati.
“Kacau! Jangan
sampai perasaan macam ini tumbuh. Mana mungkin aku suka sama cowok nyebelin
kayak Puru gitu?!” pikir Upik.
Karena
kecapekan, Puru memutuskan untuk duduk di kursi taman. Napasnya ngos-ngosan. Melihat hal ini Upik segera
memukul tangan kanannya dengan diktat pelajaran yang digengamnya dan….
“AUW! Sakit!
Ini bekas cedera abis tanding kemaren tahu!” Puru refleks mengusap-usap lengan
kanannya. Nggak tau kenapa, Upik berubah menjadi empati padanya.
“Eh sakit ya,
Puru? Maa..Maaf ya?” Upik duduk di samping kirinya.
Puru tak
menjawab.
“Mati aku! Kelihatannya Puru kesakitan
banget.” Batin Upik.
“Maa…mau ke
UKS gak Puru? Aku anterin yah? Kayaknya kamu kesakitan banget.” Tanya Upik
gugup dan cemas.
“Upik…. Upik…
” Puru mengadahkan kepalanya dan menggeleng “Kamu care banget sih sama aku. Aku jadi merasa bersalah karena selama
ini jahat sama kamu terus.”
Sontak, bulu
kuduk Upik merinding. Bagai disambar petir, dada Upik langsung panas. Saat ini, kedua pipinya tengah merah merona.
“Pik, kok
mukanya jadi merah gitu?” Tanya Puru yang ternyata menyadari tingkah upik yang
aneh. Upik jadi gugup. Suasana berubah menjadi melankolis.
“Ah, masa sih
ru? Biasa aja kok.”
Hanya itu
jawaban yang bisa Upik lontarkan padanya.
“Ka… Kalau
mukanya merah gitu,berarti…,” Puru perlahan berdiri dengan mimik wajah
merintih. Detakan jantung Upik semakin kencang. Apa Puru akan menyadari
perasaan Upik yang akhir-akhir ini menjadi aneh?
“KRING!” bel
masuk berdering kencang. Puru tak sempat melanjutkan ucapannya. Ia segera
berlari menuju kelas. “Kira-kira dia mau
ngomong apa ya? Jadi kepo.” Upik penasaran.
.....
Keesokan
harinya, Upik menuju kelasnya. Dia berdoa, “Tuhan
semoga hari ini si Puru gak ngajak perang lagi.” Dia sampai di kelasnya. Aneh hari ini dia tidak di ledek oleh Puru.
Upik hanya memandang heran “Kenapa cowok
nyebelin ini gak ngejek aku? Apa kejadian kemarin yah? ” Batin Upik. “Ah pasti dia menyesal, gara-gara ngeledek
aku” yakin Upik meskipun dia tidak yakin dengan perkataannya sendiri.
Di dalam kelas,
hati Upik tidak tenang karena perilaku aneh si Puru. Dia terus saja memandangi
Puru. “Ecieee… Mbak ganteng keliatannya lagi galau, gara-gara gak di ledek si Puru. Hihihihi” ujar teman
sebangku Upik yang setengah berbisik
itu. “Ah, apaan sih? Siapa juga yang galau? Malahan aku berterimakasih sama
Tuhan, doa ku sudah dikabulin.” ujar Upik sedikit kesal pada temannya itu. Tapi
apa yang dikatakan teman sebangku Upik itu ada benarnya juga. Upik di landa ke-galauan, lantaran si Puru tidak
meledeknya lagi.
Ketika didalam
kelas Upik berpikir “Apa aku kelewatan
sama Puru yah?”.
Upik berpikir
sejenak dan ingat sesuatu yang di lakukan kemarin dengan Puru.
“O..iya, apa jangan-jangan kejadian kemarin?
Aku pukul lengan Puru yang lagi cedera? Apa gara-gara itu yah? Duh, kalo emang
gara-gara itu aku harus cepet-cepet minta maaf.” batin Upik.
Upik berpikir
lagi “Tapi, aku liat sekarang dia
baik-baik aja gak ngerasa kesakitan. Tapi…. Apa salahnya sih? Aku minta maaf
atas kejadian itu... Duh bingung. Kayaknya aku galau beneran nih.”
.....
“KRING!!” bel
istirahat pun berbunyi. Anak-anak kelas pun berhamburan keluar untuk istirahat.
Tapi Upik masih duduk dibangkunya. Dia sedang melamunkan sikap Puru hari ini.
Di lain
hal,Puru pun melihat Upik yang sedang duduk di bangkunya. Puru heran kepada
Upik hari ini. Biasanya Upik jika mendengar bel istirahat dia tampak senang.
Tapi hari ini dia terlihat memikirkan sesuatu.
“Woi!!” Sontak
Upik kaget.Dia di kagetkan oleh cowok berbadan tinggi, yang sudah menatap di
dekat wajahnya. “Nglamun aja mulai tadi. Bel istirahat udah bunyi tuh ?!
Ngelamunin apa sih? Sampai gak kedip gitu?” tanya cowok berbadan tinggi, yang
ternyata Puru.
“Apaan sih
kamu tuh ru?! Bawel deh, yang ngelamun aku aja, kok kamu yang sewot.” ujar Upik dengan kesal karena di
kagetkan oleh Puru. “Yeee, di ingetin kalo istirahat malah marah. Dasar! Gak
ada manis-manisnya jadi cewek” setelah berkata demikian Puru pun meninggalkan
Upik.
“Duh, aku kok malah sewot sih. Padahal ini
kan kesempatan baik buat minta maaf ke Puru. Aku harus cepet-cepet minta maaf
ke Puru.” Upik bergegas mengejar
Puru dan mencarinya.
.....
Setelah
mencari-cari, akhirnya Upik menemukan Puru. Dilihatnya Puru duduk bersantai di
bangku taman sambil bermain game yang ada di handphone-nya. Lalu Upik pun menghampiri Puru.
“Puru?”
panggil Upik. “Hm?” Puru menjawab dengan santai dan mengalihkan perhatiannya
dari handphone ke Upik.
“Puru,maafin
aku yah” ujar Upik dengan nada yang lembut. “Minta maaf kenapa?” tanya Puru
heran. “Hm… Pokoknya aku minta maaf” kata Upik dengan gugup.
“Ck.Kamu ini geje. Gak ada apa-apa malah minta maaf.” Puru sedikit kesal. Tapi
ketika melihat wajah Upik yang begitu gugup Puru tersenyum dan menarik tangan
Upik agar duduk di dekatnya.
“Kamu kenapa
sih pik?” Ujar Puru sambil tersenyum manis. “Aku minta maaf soal kemaren sama
yang tadi” Upik menjawab dengan merunduk karena tidak berani melihat wajah
Puru. “Maksudnya pik? Emang kamu habis ngapain aku? kok kamu minta maaf?” tanya
Puru bingung.
“Kemarin aku
mukul lengan kamu yang lagi cedera,terus yang tadi kamu tanya baik-baik ke aku.
Eh… aku-nya malah sewot ke kamu.
Maaf yah ru?” jawab Upik sambil menoleh Puru dan menjadi malu lantaran wajah Puru terlalu dekat
dengannya.
“Oh…Jadi itu
yang bikin kamu ngelamun. Tapi seharusnya aku yang minta maaf ke kamu,soalnya
aku udah kelewatan, aku bilang kalo kamu gak ada manis-manisnya jadi cewek.
Tapi sepertinya aku salah menilai kamu,
ternyata kamu lebih manis dari pada cewe lainnya. Maaf yah pik?” Puru
berkata dengan santai dan tersenyum. Pipi Upik sontak merona. Upik tak tau
harus berkata apalagi. Upik hanya mengangguk.
“O,iya pik
kita kan udah lama kenal nih.Kita empat tahun satu sekelas terus. Kalo boleh
ngomong, gimana kalo kita…” Puru menghentikan perkataannya sejenak dan
mendekatkan wajahnya ke Upik.
Wajah Upik pun
terlihat sangat merah. Detak jantung Upik semakin kencang
“Apakah Puru bakal menyatakan… Ah tidak,tidak
itu tidak muungkin terjadi. Tapi kalo itu terjadi, aku harus bagaimana?”
batin Upik.
“Gimana kalo
kita jadi…” Puru melanjutkan perkataannya.
Upik semakin Deg-degkan.
“Sahabat!”
Puru pun
mengakihiri ketegangan Upik. “Sahabat?”ujar Upik heran.
“Ia sahabat,kita kan selalu bareng nih. Masa
mau jadi Tom and Jerry terus? Capek tau lari-lari.” Jawab Puru dengan santai
dan mengalihkan wajahnya ke taman sekolah.
“Gimana? Mau gak??” tanya Puru lagi.
“Ok, Ok, tapi janji yah gak ngeledek aku
terus?” tanya Upik yang sudah tidak gugup lagi meski dia masih deg-degkan.
“Oh… Kalo
masalah itu aku gak jamin. Hahahahaha” jawab puru dengan wajah meledek Upik.
“Puru?!” Upik
langsung kesal dan memukul Puru. Puru langsung beranjak dan lari. Upik pun
mengejar Puru.
“Puru?! Awas
kamu yah kalo kena?!” ujar Upik kesal. “Ahaha coba kejar aku kalo bisa?! Dasar
Upik Upil!” Jawab Puru dengan tertawa Puas melihat Upik menjadi kesal.
Mereka pun
berlarian kesana kemari di koridor. Dan seperti biasa, sorakan dari teman-teman
seangkatan terdengar ramai sekali.
.....
Waktu terasa
cepat berlalu. Kini Upik dan Puru sudah kelas sebelas. Dan anehnya lagi mereka
berdua sekelas lagi. Benar-benar jodoh.
Tapi semenjak
kejadian setahun yang lalu mereka semakin dekat dan akrab.
Tetapi Puru
telah berpacaran dengan cewek-cewek yang dekat dengan dia. Kecuali Upik. Puru
selalu bercerita tentang pacarnya kepada Upik. Upik hanya menanggapi saja,
meski Upik juga iri kepada cewek yang di pacari oleh Puru.
Puru
berpacaran paling lama hanya sekitar satu minggu dan rekor pacaran singkatnya
hanya satu hari. Upik merasa lelah dan kesal melihat perilaku sahabatnya yang
mempermainkan cewek.
“Ya Tuhan… Tolong ajarkan tentang cinta
sejati pada cowok ini.” Batin Upik saat melihat Puru di kelilingi para
cewek-cewek.
“Hei Puru, Apa
bener kamu sudah putus sama pacarmu?” tanya salah satu cewek yang ada di dekat
Puru. “Iya, kemarin aku di putusin. Hibur aku dong” jawab Puru santai sambil
tersenyum kepada gerombolan cewek yang mengelilinginya.
“Kalo gitu
pacaran sama aku aja yuk? Aku pasti menghiburmu” tawar cewek itu kepada Puru.
“Ok deh, Ayo kita pacaran.” Lagi-lagi dengan santainya dia berbicara tanpa
memikir panjang.
Upik langsung
kaget melihat mereka berdua. Sebenarnya Upik telah menguping pembicaraan
mereka.
“Nah kalo
gitu, di pelajaran selanjutnya kita bolos aja yuk? Kita pergi ke tempat yang
bisa berduaan gitu…” ujar cewek itu manja terhadap Puru.
Langsung saja,
reflek Upik menghentikan mereka dengan memukul bangkunya “BRAKK!”
“Tunggu Puru
?! Kamu gak lupa kan kalo minggu ini kamu tugas piket sama aku ?! Kamu mau
pergi kemana hah?!” Upik mengingatkan Puru sambil menunjukan buku piket,
sepertinya Upik marah besar terhadap Puru.
“Akh… Upik, maaf aku lupa” Puru langsung menghampri Upik.
“Tunggu Puru!!
Kamu kan bisa ngelakuin itu nanti setelah pergi?” rengek cewek itu.
“Maaf, tapi
aku nggak bisa meninggalkan sahabatku sendirian.” Jawab Puru dengan tegas.
“Sahabat ya…” batin Upik.
“Uh… Awas aja
itu si Upik.” Ujar cewek itu kesal dan meninggalkan mereka.
Setelah itu
mereka langsung mengambil penghapus papan tulis untuk membersihkan papan tulis
yang penuh dengan coretan, bekas pelajaran tadi.
“Upik! Siapa
yang lebih cepat menghapus papan tulis ini, ditraktir jus ya?” kata Puru dengan
semangat. “Roger !” Upik menjawab perkataan Puru dengan penuh semangat.
“Kita lihat
siapa yang menang! Huh, aku sih gak bakalan kalah ?!” Puru mulai menyombongkan
diri. “Katakan itu kalo kamu udah menang ?!” Upik mulai panas dan membenturkan
penghapus itu ke papan sehingga mengeluarkan debu kapur.
“Uhuk, Awas
kamu yah,Ayo kita mulai…” kata Puru sedikit panas ketika terkena debu kapur
itu.
“Brak…Bruk…Brak…Bruk…”
mereka menghapus papan dengan cara membenturkan penghapus itu ke papan,sehingga
seluruh debu kapur memnuhi ruang kelas.
“Kalian
hentikan… Woi?! Uhuk… uhuk” kata teman-teman sekelas. “Kita jadi batuk tau,
kalian berdua ini kayak anak kecil aja?!” timpal anak lain.
Langsung saja
Upik dan Puru berhenti dan melihat teman-temannya yang sedang batuk masal
gara-gara debu kapur yang mereka buat.
“Iya, maaf yah
teman-teman” kata Upik sambil bergaya orang Jepang jika meminta maaf.
“Hahahaha… Nggak pernah bosen kalo sama Upik deh” kata Puru sambil tertawa
bahagia. “Baju kita kena debu kapur nih… Jadi putih-putih semua…” Upik sambil
membersihkan bajunya yang penuh dengan debu kapur.
Setelah mereka
membersihkan bajunya dari debu kapur, Upik duduk kembali ke bangkunya dan Puru
pergi ke luar kelas entah kemana.
Sejenak Upik
melihat ke luar jendela dan melihat awan. “Hmm… Sahabat yah? Kenapa ya, di nggak ngerti perasaanku.
Padahal kita sudah berteman sejak SMP. Tapi yah… Asalkan bisa melihat dia
tertawa, ngak apa-apa deh Cuma dianggap sebagai sahabatnya saja.” Pikir
Upik.
.....
“KRING!” bel
berbunyi menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai.
“Kurang ajar banget dia. Dia lupa ya, kalo
tugas piket itu juga harus mempersiapkan bahan untuk pelajaran selanjutnya”
terlihat cewek tinggi berkulit kuning langsat keluar dari ruang guru, dengan
membawa buku pelajaran yang tebal dan berat sendirian. Lalu Upik menuju
kelasnya yang berda di lantai dua.
Setibanya di
tangga ia melihat sesosok laki-laki yang tidak asing baginya “Akh, Puru ?! Itu dia kan?” batin Upik.
Lalu ia mengikuti cowok itu.
“Puru ?!
Tung…” Upik tidak melanjutkan perkataannya. Dia tercengang melihat Puru akan di
cium oleh cewek yang memaksa Puru untuk pergi tadi.
“BRUK!” buku
yang dipegang oleh Upik terjatuh.Puru dan cewek tadi kaget. Sontak mereka
berdua melihat ke arah Upik yang sedang tercengang.
“Eh, Upik?!
Maaf aku lupa lagi” buru-buru Puru membantu mengambil buku yang dijatuhkan oleh
Upik. Upik tetap terpaku oleh kejadian tadi.
“Tunggu Puru!
Kamu pilih dia lagi,hah?! Padahal aku inikan pacarmu?!” tanya cewek itu kesal
terhadap Upik dan kelakuan Puru.
“Bisa nggak
sih? Kamu mempermasalahkan yang lain saja?” ujar Puru datar.
“Apa-apan
itu?! Sudah cukup !! Dasar bodoh ?! Kita putus saja!!” kata cewek itu kesal dan
berlari meninggalkan Puru dan Upik. Upik masih terpaku.
Di
lanjutkannya Puru memungut buku yang jatuh. “Haah… Ini pertama kalinya aku
diputusin dalam dua hari berturut-turut …” kata Puru dengan santai.
“Upik?” Puru
mengadahkan kepalanya dan melihat Upik yang masih terpaku.
“Puru apa aku
nggak bisa jadi pacarmu yang selanjutnya?” tiba-tiba Upik melontarkan kata-kata
itu dari mulut kecilnya.
Puru langsung
kaget. “Eh, siapa?” jawab Puru dengan wajah seperti tanpa dosa. “Siapa?” pikir Upik.
Upik terdiam
dan menunggu jawaban Puru. “Kayaknya, kamu lagi pengen punya pacar yah?” kata
cowok tinggi itu setelah memungut semua buku yang jatuh.
“Puru? Kamu
nggak merasakan yang namanya cinta sejati yah?” Upik membalas perkataan Puru
itu denga kesal.
“Nggak tuh!”
Puru langsung
menjawab cepat dan penuh keyakinan. Setelah itu Puru berhenti berbicara
sejenak. Suasana menjadi hening. “Aku sama sekali nggak pernah mencintai
seseorang dengan sungguh-sungguh. Karena kupikir akan lebih mudah kalo seperti
itu.” Kata-kata itu dilontarkan dari mulut seorang pria yang tampan ini.
Upik menjadi
terharu mendengar perkataan Puru tadi. Tapi….
“Tapi, yah
kalo punya pacar ngelakuin apapun jadi bisa lebih mudah kan? Terus bisa dapet
hadiah juga” kata puru dengan bangganya.
Betapa
kecewanya Upik, setelah mendengarkan kata-kata yang menyentuh hati dan disusul
dengan perkataan yang tidak memikirkan perasaan orang lain.
Lalu mereka
berjalan menyusuri koridor lantai dua untuk menuju kelas mereka.
Upik terdiam
dan mulai ilfiel.
“Percuma?! Ternyata cintaku pada Puru tetap
saja bertepuk sebelah tangan?!” batin Upik dengan menyesalnya dia telah
menyukai cowok yang seperti itu.
“Yap! Aku akan melupakan cintaku yang bertepuk sebelah
tangan ini. Sekarang saatnya aku mencari cinta yang baru!” di dalam hati
Upik berkata seperti itu dengan penuh semangat ’45.
....
Esoknya Upik berusaha untuk menghilangkan rasa
sukanya kepada Puru. Tetapi itu mustahil. Ternyata Upik tidak bisa melupakan
Puru. Dipandanginya Puru. Pandangan Upik seakan-akan tidak bisa lepas dari
Puru.
Tapi Upik
selalu berusaha untuk nyuekin Puru. Saat bertemu di koridor Puru menggoda Upik
“Halo mbak ganteng?”. Upik tak menjawab.
Seringkali
Puru menyapa Upik. Tetapi Upik tetap tidak menghiraukan Puru. “Pik, jangan
nyuekin aku kayak gitu dong..” rengek Puru. Upik hanya diam dan meninggalkan
Puru. Seolah-olah tidak ada yang berbicara padanya.
Tapi dalam
hati Upik dia tidak bisa menipu dirinya untuk tidak menghiraukan Puru.
Suasana
menjadi hening dan kikuk.
“Sebenernya
pik, aku malah suka sama kamu mulai kelas satu SMP. Mangkanya sejak itu aku
ngejailin kamu. Tapi aku gak berani nyatain ke kamu, aku takut kamu sebenernya
cuman nganggep aku temen.” Ucap Puru serius sambil menatap Upik dengan tatapan
yang bisa membuat semua cewek melting. Upik
terdiam dan malu. “Tapi kenapa kamu malah mau pacaran sama orang lain?” ujar
Upik sedikit kesal.
“Aku
sebenernya gak ada niatan untuk pacaran dengan cewek lain, tapi aku pengen
ngelupain persaanku ke kamu, karena waktu itu aku kira cintaku bertepuk sebelah
tangan” ucap Puru dengan serius. Upik ingin menjawab perkataan Puru, tapi
sebelum berkata Puru menyela Upik “Aku sebenernya mau banget jadi pacarmu, tapi
aku pikir kalo jadi sahabat lebih baik daripada pacaran. Kalo pacaran kita bisa
putus, tapi kalo jadi sahabat kita tidak mungkin putus kan?” ucap Puru dengan
serius. “Pik,jujur aku suka sama kamu. Kamu bersedia kan jadi pacarku?” Kata
Puru dengan wajah yang tersipu malu. Upik hanya diam tak menjawab, ia malah
terpaku melihat Puru menyatakan cinta padanya secara tiba-tiba. “Sebenernya ini
pertama kali aku menyatakan cinta. Sebelum-sebelumnya aku hanya ditembak oleh
mantan pacarku saja.” Puru memperjelas keadaannya.
“Jadi itu
kenapa alasanmu, yang selalu mengelak kalo aku tanya masalah perasaan kita?”
ujar Upik yang ingin tau. Puru hanya mengangguk malu.
”Upik kamu
maukan jadi pacarku, sampai seterusnya dan hidup bahagia bersama?” ucap Puru
sambil tersenyum manis kepada Upik. Upik mengangguk senang.
Tiba-tiba Puru
memeluk Upik. Sontak Upik terkejut. Tetapi Upik perlahan-lahan membalas pelukan
Puru. “Upik, aku sayang sama kamu. Janji jangan ninggalin aku ya?” bisik Puru
sambil memeluk Upik dengan erat. Upik mengangguk dan tetap memeluk Puru. Di
dalam hati Upik berkata “Tuhan
terimakasih telah mengajarkan pada sahabatku ini tentang arti cinta sejati.”
Bibir kecil Upik tersenyum.
Tamat
“Cerita
ini dialami oleh sang Penulis sendiri. Kita tidak tahu kapan Cinta itu datang,
darimana Cinta itu datang dan siapa Cinta itu. Yang kita ketahui hanyalah
bagaimana kita bisa merasakan Cinta itu sendiri”
0 komentar:
Posting Komentar